Gagasan ini mendapat sambutan positif dari pemerintah daerah. Staf Ahli Bupati, Joko Putro Utomo, berharap sinergi antara pemerintah (umara) dan ulama dapat terjalin lebih kuat untuk membangun ekosistem wakaf yang profesional.
“Ini adalah langkah awal. Harapannya, ilmu yang didapat dari Wakil Ketua BWI Pusat hari ini bisa langsung diaplikasikan, sehingga Ar Royyan dan pesantren lain di Pacitan bisa menjadi role model pemberdayaan ekonomi umat,” ungkap Joko Putro Utomo.
Dorong-Pesantren-Jadi-Poros-Wakaf-Produktif-BWI-Sasar-Ulama-di-Pacitan.jpg101.64 KB Acara ini juga diisi dengan langkah-langkah konkret. Selain meresmikan Forum Bahsul Masail PPTQ Ar Royyan, sebuah aspirasi penting juga disampaikan langsung kepada perwakilan pemerintah. Pengurus BWI Pacitan meminta agar Pemkab dapat memfasilitasi sebuah gedung yang tidak terpakai untuk dijadikan sekretariat BWI Pacitan, guna menunjang operasional dan koordinasi.
Halaqoh ini diharapkan menjadi titik awal bagi Pacitan untuk mengoptimalkan potensi wakafnya. Dengan menjadikan pesantren poros wakaf produktif, diharapkan dapat lahir sumber-sumber kekuatan ekonomi baru yang berasal dari, oleh, dan untuk umat.